Seperti yang pernah penulis ceritakan sebelumnya, bahwa R. Tumenggung Pasir Puger/H. Mustofa adalah tiga bersaudara (H. Sulaeman/Mertojoyo, Mustofa/R. Tmg. Pasir Puger, R.H. Umar Sahid). Ketiganya adalah putra-putra dari R. Tumenggung Tarsowijoyo.
Sedangkan R. Tumenggung Tarsowijoyo mempunyai adik yang bernama R. Tarso Wongso, seorang lurah Desa Lanji yang bergelar Kerto Jayadi, diperkirakan berkuasa pada tahun 1.700 M.
Raden Tumenggung Pasir Puger adalah seorang pemuda yang banyak memahami tentang Islam (ulama). Beliau kala mudanya banyak mengabdikan dirinya di Keraton Kertosuro Hadiningrat, ketika itu dipimpin oleh Raja Amangkurat IV/Amangkurat Jawi.
Raden H. Mustofa banyak belajar agama Islam dari Kanjeng Ratu Kencana/Kanjeng Ratu Ageng/Kanjeng Ratu Beruk, istri Raja Amangkurat IV, sedangkan Kanjeng Ratu Beruk sendiri adalah murid/santri dari Kyai Muhammad, putra Mbah Kyai Asy’ari Kaliwungu.
Selain ahli agama, R. Tumenggung Pasir Puger juga seorang seniman gamelan (Yogo), beliau juga penabuh gamelan di Keraton Kartosuro Hadiningrat, bahkan saat berada di kampung (Desa Kebonharjo) beliau berdakwah menggunakan seperangkat wayang dan gamelan “Guntur Madu” milik kakanya (R. Mertojoyo) jauh sampai ke pelosok pegunungan bersama adiknya yang bernama R. Umar Syahid (makam di Lanji). Menurut cerita orang-orang yang mempunyai penglihatan indera keenam, suara gamelan itu masih sering terdengar saat menjelang Shalat Jum’at.
Kecuali itu R. H. Mustofa juga memiliki keahlian seni ukir, ini terbukti bahwa mimbar Masjid Baitul Izzah juga Masjid Besar Kendal diukir oleh beliau yang dibantu oleh anaknya yang bernama Abdul Nasir (Kek Nasir).
Demikian sejarah singkat KH. Mustofa/R. Tumenggung pasir Puger, semoga ada manfaat dan membuka wawasan bagi anak cucunya dan terlabih kepada masyarakat Kebonharjo.
Perlu diketahui bahwa makam KH. Mustofa/R. Tumenggung Pasir Puger terletak di pemakaman Jambi Tempel (Jambearum) berdampingan dengan makam kakaknya, R. Mertowijoyo/ H.Sulaeman.



