Minggu, 02 Agustus 2020

SEJARAH SINGKAT H. MUSTOFA (R. TUMENGGUNG PASIR PUGER)

SEJARAH SINGKAT H. MUSTOFA (R. TUMENGGUNG PASIR PUGER)

Seperti yang pernah penulis ceritakan sebelumnya, bahwa R. Tumenggung Pasir Puger/H. Mustofa adalah tiga bersaudara (H. Sulaeman/Mertojoyo, Mustofa/R. Tmg. Pasir Puger, R.H. Umar Sahid). Ketiganya adalah putra-putra dari R. Tumenggung Tarsowijoyo.

 

Sedangkan R. Tumenggung Tarsowijoyo mempunyai adik yang bernama R. Tarso Wongso, seorang lurah Desa Lanji yang bergelar Kerto Jayadi, diperkirakan berkuasa pada tahun 1.700 M.

 

Raden Tumenggung Pasir Puger adalah seorang pemuda yang banyak memahami tentang Islam (ulama). Beliau kala mudanya banyak mengabdikan dirinya di Keraton Kertosuro Hadiningrat, ketika itu dipimpin oleh Raja Amangkurat IV/Amangkurat Jawi.

 

Raden H. Mustofa banyak belajar agama Islam dari Kanjeng Ratu Kencana/Kanjeng Ratu Ageng/Kanjeng Ratu Beruk, istri Raja Amangkurat IV, sedangkan Kanjeng Ratu Beruk sendiri adalah murid/santri dari Kyai Muhammad, putra Mbah Kyai Asy’ari Kaliwungu.

 

Selain ahli agama, R. Tumenggung Pasir Puger juga seorang seniman gamelan (Yogo), beliau juga penabuh gamelan di Keraton Kartosuro Hadiningrat, bahkan saat berada di kampung (Desa Kebonharjo) beliau berdakwah menggunakan seperangkat wayang dan gamelan “Guntur Madu” milik kakanya (R. Mertojoyo) jauh sampai ke pelosok pegunungan bersama adiknya yang bernama R. Umar Syahid (makam di Lanji). Menurut cerita orang-orang yang mempunyai penglihatan indera keenam, suara gamelan itu masih sering terdengar saat menjelang Shalat Jum’at.

 

Kecuali itu R. H. Mustofa juga memiliki keahlian seni ukir, ini terbukti bahwa mimbar Masjid Baitul Izzah juga Masjid Besar Kendal diukir oleh beliau yang dibantu oleh anaknya yang bernama Abdul Nasir (Kek Nasir).



 Demikian sejarah singkat KH. Mustofa/R. Tumenggung pasir Puger, semoga ada manfaat dan membuka wawasan bagi anak cucunya dan terlabih kepada masyarakat Kebonharjo.

 

Perlu diketahui bahwa makam KH. Mustofa/R. Tumenggung Pasir Puger terletak di pemakaman Jambi Tempel (Jambearum) berdampingan dengan makam kakaknya, R. Mertowijoyo/ H.Sulaeman.

SEJARAH SINGKAT H. MUSTOFA  (R. TUMENGGUNG PASIR PUGER)
SEJARAH SINGKAT H. MUSTOFA  (R. TUMENGGUNG PASIR PUGER)
SEJARAH SINGKAT H. MUSTOFA  (R. TUMENGGUNG PASIR PUGER)

Sabtu, 06 Juni 2020

Sejarah Berdirimya masjid “Baitul Izzah” Kebonharjo, Patebon


Sejarah Berdirimya masjid “Baitul Izzah”  Kebonharjo, Patebon
(Gambar hanya ilustrasi)
Bismillahir Rohmanir Rokhim,
     Dengan mengharap ridho dari Allah swt,dengan ini saya beranikan diri untuk menulis sejarah singkat babat tanah Kebonharjo beserta tokoh2 yang telah mandegani dan andil dan berkiprah didesa kita tercinta ini.
     Sejarah ini dikisahkan dan diceritakan oleh leluhur kita yang telah sumare. Saya mencoba mengorek keterangan dari para orang tua yang kebetulan masih sugeng. Diantara dicerita oleh ibu Sukanah yang mendapat cerita dari simbah H.Irsyad bin H.Sengari pada thn 1948, ketika itu ibu Sukanah masih usia 13 tahun. Kemudian diceritakan juga oleh Bpk Komari [Babadan] yang mendapat cerita mbah Kastawi juga mbah Ngasin [alm] dan almarhum H.Abdur Rohman [lurah desa Cepiring thn 1937-1940 M dan almarhumah Nyai Sarah.
     Juga diceritakan oleh para sesepuh desa kita seperti almarhum Bpk Silman, Bpk H.Sulaeman, Kyai Slamet Anwar, KH Ali Khasan setelah dikorek keterangannya memberikan jawaban yang sama.
     Berikut akan saya tuliskan secara rinci, agar dimasa mendatang  generasi muda desa Kebonharjo tidak kepaten obor akan sejarah desanya.Siapa leluhurnya dan kapan sejarah itu dimulai.


SEJARAH BABAT TANAH KEBONHARJO


SEJARAH BABAT TANAH KEBONHARJO

     Pada tahun 1725 M. Dibawah pemerintahan raja Paku Buwono II diKartosuro Kerajaan Kartosuro pindah ke Surakarta (Solo) pada tahun 1745 M.
     Pada zaman itu Kadipaten Kendal dipimpin oleh tumenggung Marto Wijoyo III (makamnya didesa Sukolilan).Ketika zaman Martowijoyo III para lurah dikadipaten Kendal kebanyakan bergelar MertoWijoyo atau orang dulu menyebut Mertojoyo.Adipati MartoWijoyo II memimpin Kendal pada tahun 1725-1739 M.
     Selanjutnya pada tahun 1739-1754 M Kadipaten Kendal dipimpin SingoWijoyo II dan para lurah di Kadipaten Kendal kebanyakan bergelar KartoWijoyo.

PERJALANAN LURAH DESA KEBONHARJO.
     Lurah Patebon pada masa pemerintahan Adipati MertoWijoyo II adalah seorang putra dari Tumenggung TarsoWijoyo yang bernama H.Sulaeman dengan gelar MertoWijoyo/Mertojoyo yang berkuasa pada tahun 1730-1800 M dan  mempunyai seperangkat gamelan dan wayang yang digunakan untuk berdakwah oleh adiknya Mertojoyo yang bernama Kyai Mustofa (dari keraton Surakarta Hadiningrat) yang beranugerahi Tumenggung Pasir Puger.
     Setelah lurah Mertojoyo purna tugas,Jabatan lurah didesa Kebonharjo mengalami kekosongan,maka masing2 dukuh mendirikan kelurahan sendiri-sendiri seperti dukuh Patebon, Bodri, Babadan, Karangpitu.
Pada tahun itu juga pemerintahan Surakarta mengutus Kyai Pradah mensurvei pemajakan di daerah-daerah. Melihat kekosongan lurah didesa Patebon, Kyai Pradah segera menata kembali kelurahan Patebon. Singkatnya beliau menunjuk seorang untuk menduduki jabatan lurah didesa Patebon yaitu Ngusman yang bergelar Kertojoyo, beliau mengganti nama yang semula kelurahan Patebon menjadi Kebonharjo.
     Kyai Pradah adalah seorang abdi dalem Sinuhun Paku Buwono II yang dipercaya dan jujur, setiap tanggal wafatnya Kyai Pradah diperingati dengan diadakan khoul tiap tgl 8 Maulid di Surakarta (Solo)
     Mbah Ngusman (Kertojoyo I) lurah desa Kebonharjo setelah Mertojoyo mempunyai keturunan H. Umar Said dan mbah Prawiro (H.Usman). Kemudian setelah mbah Ngusman (Kertojoyo I) wafat, lurah desa Kebonharjo diganti mbah Sarkani yang bergelar Kertojoyo II yang mempunyai anak Sumono dan Sumono mempunyai anak Sukardi, balai desa kembali pindah ke Patebon.
     Setelah mbah Sarkani (Kertojoyo II) wafat diganti lurah Prawiro (Mbah Usman).Balai desa kembali dipindah kedukuh Babadan yang sekarang disebut dukuh Babadan Kemantenan.
     Setelah lurah Prawiro wafat diganti lurah Sumono,maka balai desa dipindah lagi ke dukuh Patebon.setelah lurah Sumono wafat, diganti lurah Sukardi, balai desa masih tetap didukuh Patebon.
Selanjutnya berturut-turut Bpk Agus Sumali bin Tursan, Bpk Arifin bin Sukandar, Bpk Muhadi bin Semin, Ibu Endang Kustiawati, sampai ditahun 2020 dipimpin oleh lurah Edi Lukman bin Sofwan dan sekarang yang baru dilantik yaitu Bpk Rosidi, kantor kelurahan bertempat dikomplek pasar Bodri.