Sabtu, 06 Juni 2020

SEJARAH BABAT TANAH KEBONHARJO


SEJARAH BABAT TANAH KEBONHARJO

     Pada tahun 1725 M. Dibawah pemerintahan raja Paku Buwono II diKartosuro Kerajaan Kartosuro pindah ke Surakarta (Solo) pada tahun 1745 M.
     Pada zaman itu Kadipaten Kendal dipimpin oleh tumenggung Marto Wijoyo III (makamnya didesa Sukolilan).Ketika zaman Martowijoyo III para lurah dikadipaten Kendal kebanyakan bergelar MertoWijoyo atau orang dulu menyebut Mertojoyo.Adipati MartoWijoyo II memimpin Kendal pada tahun 1725-1739 M.
     Selanjutnya pada tahun 1739-1754 M Kadipaten Kendal dipimpin SingoWijoyo II dan para lurah di Kadipaten Kendal kebanyakan bergelar KartoWijoyo.

PERJALANAN LURAH DESA KEBONHARJO.
     Lurah Patebon pada masa pemerintahan Adipati MertoWijoyo II adalah seorang putra dari Tumenggung TarsoWijoyo yang bernama H.Sulaeman dengan gelar MertoWijoyo/Mertojoyo yang berkuasa pada tahun 1730-1800 M dan  mempunyai seperangkat gamelan dan wayang yang digunakan untuk berdakwah oleh adiknya Mertojoyo yang bernama Kyai Mustofa (dari keraton Surakarta Hadiningrat) yang beranugerahi Tumenggung Pasir Puger.
     Setelah lurah Mertojoyo purna tugas,Jabatan lurah didesa Kebonharjo mengalami kekosongan,maka masing2 dukuh mendirikan kelurahan sendiri-sendiri seperti dukuh Patebon, Bodri, Babadan, Karangpitu.
Pada tahun itu juga pemerintahan Surakarta mengutus Kyai Pradah mensurvei pemajakan di daerah-daerah. Melihat kekosongan lurah didesa Patebon, Kyai Pradah segera menata kembali kelurahan Patebon. Singkatnya beliau menunjuk seorang untuk menduduki jabatan lurah didesa Patebon yaitu Ngusman yang bergelar Kertojoyo, beliau mengganti nama yang semula kelurahan Patebon menjadi Kebonharjo.
     Kyai Pradah adalah seorang abdi dalem Sinuhun Paku Buwono II yang dipercaya dan jujur, setiap tanggal wafatnya Kyai Pradah diperingati dengan diadakan khoul tiap tgl 8 Maulid di Surakarta (Solo)
     Mbah Ngusman (Kertojoyo I) lurah desa Kebonharjo setelah Mertojoyo mempunyai keturunan H. Umar Said dan mbah Prawiro (H.Usman). Kemudian setelah mbah Ngusman (Kertojoyo I) wafat, lurah desa Kebonharjo diganti mbah Sarkani yang bergelar Kertojoyo II yang mempunyai anak Sumono dan Sumono mempunyai anak Sukardi, balai desa kembali pindah ke Patebon.
     Setelah mbah Sarkani (Kertojoyo II) wafat diganti lurah Prawiro (Mbah Usman).Balai desa kembali dipindah kedukuh Babadan yang sekarang disebut dukuh Babadan Kemantenan.
     Setelah lurah Prawiro wafat diganti lurah Sumono,maka balai desa dipindah lagi ke dukuh Patebon.setelah lurah Sumono wafat, diganti lurah Sukardi, balai desa masih tetap didukuh Patebon.
Selanjutnya berturut-turut Bpk Agus Sumali bin Tursan, Bpk Arifin bin Sukandar, Bpk Muhadi bin Semin, Ibu Endang Kustiawati, sampai ditahun 2020 dipimpin oleh lurah Edi Lukman bin Sofwan dan sekarang yang baru dilantik yaitu Bpk Rosidi, kantor kelurahan bertempat dikomplek pasar Bodri.
   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar