SEJARAH SINGKAT DESA KEBONHARJO
SIAPAKAH MERTOJOYO
/H.SULAEMAN ?
Seperti yang telah diceritakan oleh nara
sumber seperti Mbah Nasim, Mbah Kastawi, Mbah Siti Sarah, bahwa Raden
Mertojoyo/ H.Sulaeman itu seorang lurah yang memimpin desa Kebonharjo pada
tahun 1730~1800 M.Beliau adalah anak serorang Tumenggung Tarso Wijoyo yang
terkenal kaya dan Dermawan. Karena kedermawanannya itu beliau Raden Mertojoyo
rela mewakafkan rumah dan sebagian tanahnya untuk dijadikan masjid, bahkan
beliau juga menghibahkan tanahnya kepada Kyai Arif dan seorang Kyai dari
Aram-aram (Ungup-ungup,Weleri) yaitu KH Abu Bakar karena bersedia menjadi
Nadhir atau mengelola aktifitas masjid.
Konon beliau juga memiliki seperangkat
Wayang dan Gamelan yang dijadikan sarana untuk mensiarkan agama Islam yang
dijalankan oleh adik kandungnya yaitu Raden H.Mustofa/ Raden Tumenggung Pasir
Puger bersama adiknya Raden Umar Sa”id ke daerah pegunungan.
Karena kecintaannya pada Islam beliau
mewakafkan rumah dan tanahnya untuk berdirinya sebuah masjid pada tahun 1775 M.
Setelah peralatan wayang dan Gamelannya
yang bernama Guntur Madu, sudah tidak digunakan lagi kemudian ditanam ditengah
bangunan masjid, konon menurut cerita orang-orang dulu tiap malam jum”at Kliwon
gamelan itu sering bersuara sendiri ditempat penyimpanannya yang sekarang
dijadikan masjid Baitul Izzah.
BAGAIMANA AWAL BERDIRINYA
MASJID ?
Awal berdirinya bangunan masjid Baitul
Izzah adalah sebuah bangunan rumah joglo, karena memang awalnya sebuah rumah
tinggal yang dialih fungsikan sebagai tempat ibadah. Namun karena Raden
Mertojoyo mempunyai seorang adik yaitu H.Mustofa (Raden Tumenggung Pasir Puger)
seorang seniman yang ahli seni musik (gamelan) dan seni ukir, ditatalah rumah
joglo itu dengan dibuatkan mimbar khotbah. Dan mimbar itu dibikin dan diukir
sendiri oleh mbah H. Mustofa bersama anaknya yang bernama Kyai Abdul Nasir (Kek
Nasir).
Kemudian pada sekitar tahun 1875 M, mulai
diadakan renovasi bentuk bangunan masjid yang dimotori oleh Mbvah Kyai Abdul
Nastir (Kek Nasir), dari bentuk bangunan joglo menjadi bentuk sebuah bangunan
masjid. Adapun biaya renovasi masjid ketika itu didapat dari iuran para pemuda,
karena saat itu banyak pemuda Kebonharjo yang merantau ke Manca Negara, ada
yang ke Singapura, Kuala Lumpur, bahkan sampai Siem (Muang Thai).
Ada yang mengatakan biaya renovasi
dikumpulkan dari 16 pemuda, ada pula yang mengatakan
21 pemuda,dan juga bantuan dari masyarakat sekitar masjid baik berupa uang
maupun tenaga.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar