Kamis, 04 Juni 2020

Sejarah Singkat Desa Kebonharjo Patebon


SEJARAH SINGKAT DESA KEBONHARJO

SIAPAKAH MERTOJOYO /H.SULAEMAN ?
     Seperti yang telah diceritakan oleh nara sumber seperti Mbah Nasim, Mbah Kastawi, Mbah Siti Sarah, bahwa Raden Mertojoyo/ H.Sulaeman itu seorang lurah yang memimpin desa Kebonharjo pada tahun 1730~1800 M.Beliau adalah anak serorang Tumenggung Tarso Wijoyo yang terkenal kaya dan Dermawan. Karena kedermawanannya itu beliau Raden Mertojoyo rela mewakafkan rumah dan sebagian tanahnya untuk dijadikan masjid, bahkan beliau juga menghibahkan tanahnya kepada Kyai Arif dan seorang Kyai dari Aram-aram (Ungup-ungup,Weleri) yaitu KH Abu Bakar karena bersedia menjadi Nadhir atau mengelola aktifitas masjid.
     Konon beliau juga memiliki seperangkat Wayang dan Gamelan yang dijadikan sarana untuk mensiarkan agama Islam yang dijalankan oleh adik kandungnya yaitu Raden H.Mustofa/ Raden Tumenggung Pasir Puger bersama adiknya Raden Umar Sa”id ke daerah pegunungan.
     Karena kecintaannya pada Islam beliau mewakafkan rumah dan tanahnya untuk berdirinya sebuah masjid pada tahun 1775 M. Setelah  peralatan wayang dan Gamelannya yang bernama Guntur Madu, sudah tidak digunakan lagi kemudian ditanam ditengah bangunan masjid, konon menurut cerita orang-orang dulu tiap malam jum”at Kliwon gamelan itu sering bersuara sendiri ditempat penyimpanannya yang sekarang dijadikan masjid Baitul Izzah.

BAGAIMANA AWAL BERDIRINYA MASJID ?
ejarah Singkat Desa Kebonharjo Patebon

     Awal berdirinya bangunan masjid Baitul Izzah adalah sebuah bangunan rumah joglo, karena memang awalnya sebuah rumah tinggal yang dialih fungsikan sebagai tempat ibadah. Namun karena Raden Mertojoyo mempunyai seorang adik yaitu H.Mustofa (Raden Tumenggung Pasir Puger) seorang seniman yang ahli seni musik (gamelan) dan seni ukir, ditatalah rumah joglo itu dengan dibuatkan mimbar khotbah. Dan mimbar itu dibikin dan diukir sendiri oleh mbah H. Mustofa bersama anaknya yang bernama Kyai Abdul Nasir (Kek Nasir).

     Kemudian pada sekitar tahun 1875 M, mulai diadakan renovasi bentuk bangunan masjid yang dimotori oleh Mbvah Kyai Abdul Nastir (Kek Nasir), dari bentuk bangunan joglo menjadi bentuk sebuah bangunan masjid. Adapun biaya renovasi masjid ketika itu didapat dari iuran para pemuda, karena saat itu banyak pemuda Kebonharjo yang merantau ke Manca Negara, ada yang ke Singapura, Kuala Lumpur, bahkan sampai Siem (Muang Thai).
     Ada yang mengatakan biaya renovasi dikumpulkan dari 16 pemuda, ada pula yang mengatakan 21 pemuda,dan juga bantuan dari masyarakat sekitar masjid baik berupa uang maupun tenaga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar