Pada
tahun 1725 M. Dibawah pemerintahan raja Paku Buwono II diKartosuro Kerajaan
Kartosuro pindah ke Surakarta (Solo) pada tahun 1745 M.
Pada zaman itu Kadipaten Kendal dipimpin
oleh tumenggung Marto Wijoyo III (makamnya didesa Sukolilan).Ketika zaman
Martowijoyo III para lurah dikadipaten Kendal kebanyakan bergelar MertoWijoyo
atau orang dulu menyebut Mertojoyo.Adipati MartoWijoyo II memimpin Kendal pada
tahun 1725-1739 M.
Selanjutnya pada tahun 1739-1754 M
Kadipaten Kendal dipimpin SingoWijoyo II dan para lurah di Kadipaten Kendal
kebanyakan bergelar KartoWijoyo.
PERJALANAN
LURAH DESA KEBONHARJO.
Lurah Patebon pada masa pemerintahan
Adipati MertoWijoyo II adalah seorang putra dari Tumenggung TarsoWijoyo yang
bernama H.Sulaeman dengan gelar MertoWijoyo/Mertojoyo yang berkuasa pada tahun
1730-1800 M dan mempunyai seperangkat
gamelan dan wayang yang digunakan untuk berdakwah oleh adiknya Mertojoyo yang
bernama Kyai Mustofa (dari keraton Surakarta Hadiningrat) yang beranugerahi
Tumenggung Pasir Puger.
Setelah lurah Mertojoyo purna
tugas,Jabatan lurah didesa Kebonharjo mengalami kekosongan,maka masing2 dukuh
mendirikan kelurahan sendiri-sendiri seperti dukuh Patebon, Bodri, Babadan, Karangpitu.
Pada tahun itu juga pemerintahan Surakarta mengutus Kyai Pradah
mensurvei pemajakan di daerah-daerah. Melihat
kekosongan lurah didesa Patebon, Kyai Pradah segera menata kembali
kelurahan Patebon. Singkatnya beliau menunjuk seorang
untuk menduduki jabatan lurah didesa Patebon yaitu Ngusman yang bergelar
Kertojoyo, beliau mengganti nama yang semula kelurahan Patebon menjadi
Kebonharjo.
Kyai Pradah adalah seorang abdi dalem
Sinuhun Paku Buwono II yang dipercaya dan jujur, setiap tanggal wafatnya Kyai
Pradah diperingati dengan diadakan khoul tiap tgl 8 Maulid di Surakarta (Solo)
Mbah Ngusman (Kertojoyo I) lurah desa
Kebonharjo setelah Mertojoyo mempunyai keturunan H. Umar Said dan mbah Prawiro
(H.Usman). Kemudian setelah mbah Ngusman (Kertojoyo I) wafat, lurah desa
Kebonharjo diganti mbah Sarkani yang bergelar Kertojoyo II yang mempunyai anak
Sumono dan Sumono mempunyai anak Sukardi, balai desa
kembali pindah ke Patebon.
Setelah mbah Sarkani (Kertojoyo II) wafat
diganti lurah Prawiro (Mbah Usman).Balai desa kembali dipindah kedukuh Babadan
yang sekarang disebut dukuh Babadan Kemantenan.
Setelah lurah Prawiro wafat diganti lurah
Sumono,maka balai desa dipindah lagi ke dukuh Patebon.setelah lurah Sumono
wafat, diganti lurah Sukardi, balai desa masih tetap didukuh Patebon.
Selanjutnya
berturut-turut Bpk Agus Sumali bin Tursan, Bpk Arifin bin Sukandar, Bpk Muhadi
bin Semin, Ibu Endang Kustiawati, sampai ditahun 2020 dipimpin oleh lurah Edi
Lukman bin Sofwan dan sekarang yang baru dilantik yaitu Bpk Rosidi, kantor
kelurahan bertempat dikomplek pasar Bodri.